Tanaman Obat untuk asma

Jumat, 02 April 2010

Produktivitas menurun akibat penyakit asma menyebabkan kerugian hingga Rp 840-miliar setahun . Daun sembung terbuktiI secara ilmiah melegakan jalan pernapasan pengidap asma.

Kerugian akibat serangan asma itu terjadi di Kanada sebagaimana riset Arto Ohinmaa dan Charles Yan dari Institut Kesehatan Kanada. Jumlah penderita asma di Indonesia mencapai 12-juta orang. Belum ada laporan kerugian akibat serangan asma di Indonesia. Bertahun-tahun mengidap asma, Dewi Arimbi - bukan nama sebenarnya - baru sekali membolos bekerja. Namun, ia hampir saja menemui ajal ketika pergi ke luar kota dan lupa membawa obat antiasma.

Asma menyerang ketika hampir tengah malam. Tubuhnya membiru karena pasokan oksigen minim. Rekan-rekannya cekatan membawa Arimbi ke Puskesmas sehingga dokter jaga sempat menyuntikkan obat antiasma. Nyawa Arimbi pun tertolong. Menurut dr Sidi Aritjahja, dokter dan herbalis di Yogyakarta, obat asma yang beredar di pasaran umumnya mengandung 2 zat: antihistamin dan bronkodilator. Antihistamin menghentikan efek histamin yang memicu pembengkakan; bronkodilator melonggarkan penyempitan saluran bronkus ke ukuran normal.

Bronkus saluran berukuran 2 - 3 cm dihuni sel-sel yang mudah memproduksi histamin - zat yang menyebabkan timbulnya pembengkakan - jika terpicu. Histamin melebarkan pembuluh darah, menyebabkan alergi, kemerahan, bengkak, dan sesak napas. Tubuh mengeluarkan histamin sebagai mekanisme perlawanan atas munculnya benda asing seperti debu, serangga, atau antibiotik.

Ketika histamin itu keluar muncullah serangan asma. Untuk mengatasi histamin, pasien asma biasanya mengkonsumsi bronkodilator yang umumnya berbahan aktif aminofilin. Namun, pemakaian zat itu mempengaruhi kinerja otot polos dan sistem saraf tepi. Dampaknya tekanan darah turun dan jantung berdebar-debar.

Sembung

Alam menyediakan obat antiasma yang aman, yakni daun sembung Blumea balsamifera. Perdu itu terbukti mujarab mengatasi asma. “Sembung dimanfaatkan masyarakat sebagai pelega pernapasan,” kata Prof Andreanus Sumardji, dosen Imunologi, Farmakologi, dan Etnofarmakologi di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Bersama 2 koleganya, ia meneliti pengaruh pemberian ekstrak daun sembung untuk mengatasi asma.

Mereka memanfaatkan marmut yang peka histamin sebagai hewan percobaan. Total ada 35 marmut terbagi dalam 7 kelompok. Kelompok I - VI masing-masing disemprot 2,6 mg histamin per kg bobot tubuh sehingga mengidap asma. Setengah jam kemudian, frekuensi pernapasan kelompok I - VI meningkat menjadi 4,7 Hz; sebelumnya, 2 Hz. Satu hertz sama dengan satu getaran per detik. Karena tak disemprot histamin, frekuensi pernapasan marmut kelompok VI tetap, 2 Hz.

Biasanya frekuensi pernapasan hewan percobaan diukur dengan memasukkan kateter ke saluran bronkus. Namun, Andreanus memanfaatkan botol kaca berdiameter 15 cm. Ia menyumbat mulut botol dengan mikrofon. Bagian dasar botol dipotong untuk memasukkan mulut marmut yang akan diuji.

Mikrofon menangkap suara pernapasan marmut, lalu meneruskannya ke komputer berperangkat lunak Cool Edit Pro 2.0 untuk mengolah sinyal suara secara digital. Frekuensi pernapasan marmut terdeteksi otomatis. Menurut Andreanus cara itu lebih praktis, cepat, dan bersih ketimbang menggunakan kateter. Hasilnya pemanfaatan 621,7 mg ekstrak sembung setara dengan obat antiasma yang beredar di pasaran.

Multimanfaat

Dosis 621,7 mg itu setara 4,3 gram untuk manusia berbobot 70 kg. Riset Krishna Martha dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung membuktikan LD50 daun sembung mencapai 4.000 - 8.000 mg per kg bobot tubuh. LD50 adalah dosis yang mematikan separuh hewan percobaan. Pada manusia berbobot 70 kg, LD50 setara 280 - 320 gram sekali konsumsi. Artinya dosis efektif yang hanya 4,3 gram sangat aman untuk melegakan bronkus.

Menurut Sidi, efek bronkodilasi atau melegakan bronkus karena kandungan alkaloid di dalam ekstrak daun sembung. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu memberikan sembung kepada pasien bersama herbal lain yang berkhasiat melancarkan peredaran darah seperti daun kaliandra. Peredaran darah penderita asma perlu diperlancar untuk mempercepat pemulihan bengkak dinding bronkus.

Wahyu Suprapto, herbalis di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, mengatakan sembung juga menurunkan kepekatan dan melancarkan peredaran darah. Itu karena kandungan zat camphor di dalam daun. Daun tanaman anggota famili Asteraceae lazim dimanfaatkan oleh perempuan usai melahirkan untuk membersihkan darah nifas. Pemanfaatan lain untuk mengatasi masuk angin dan perut kembung. Nama sembung diambil dari gangguan perut kembung. (Argohartono Arie Raharjo). Sumber : http://trubus-online.co.id

Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar sesuai dengan isi tema atau untuk sekedar mendapatkan backlink